Tentang Kami
Kenali kami lebih dekat
Bangunan dengan konstruksi ala Belanda : pondasi tinggi, berdinding tebal dan tinggi itu, masih tampak gagah dan cukup terawat. Delapan pilar doria yang menjadi wajah bangunan itu menambah sentuhan jadul namun anggun.
Salah satu ciri khas indische stijl yang banyak dipraktekan Belanda pada bangunan di tanah jajahannya adalah menggabungkan gaya eropa dengan sentuhan arsitektur pribumi nusantara. Pada bangunan itu tampak pada desain atap yang menggunakan model limasan pacul gowang.
Sebelum menjadi pusat pergerakan Muhammadiyah, bangunan itu merupakan milik perseorangan, yakni kakak beradik, Raden Mas Sobali dan Raden Ayu Anjani. Berdasarkan buku Mengenal Purbalingga karya Sasono dan Tri Atmo (1993) mereka berdua keturunan Raden Tumenggung Dipokusumo V, Bupati Purbalingga ke-VII dari isteri ketiganya Mas Ajeng Dasih.
Pergerakan Muhammadiyah berdiri di Yogyakarta pada 1912 dan masuk ke Purbalingga sekitar 1918 yang dimulai dari pengajian di desa-desa. Ormas yang fokus pada pendidikan itu berkembang pesat dan resmi menjadi Pimpinan Muhammadiyah Cabang Purbalingga dengan surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 01 Tahun 1922 tanggal 2 Januari 1922.
Semula pusat Muhammadiyah Purbalingga ada kompleks Masjid At-Taqwa, Kelurahan Purbalingga Wetan (Depan Kantor Kejaksaan Negeri) sebelum pindah ke gedung itu. Kantor pusat yang baru semakin menyemangati kader Muhammadiyah untuk memajukan syiar islam di Purbalingga. Hal itu tampak pada foto bertarikh 1927 yang menggambarkan kelulusan para calon guru yang menimba ilmu di Sekolah Guru Rakyat Muhammadiyah tengah berpose di depan gedung itu.
Setelah lama berstatus pinjaman, pemilik tanah dan bangunan itu minta untuk dibeli. Akhirnya pada 1946 dibentuk Panitia Pembelian Tanah Muhammadiyah yang diketuai oleh KH Syarbini dan Sekretaris KH Abdul Kholik. Raden Mas Sobali dan Raden Ayu Anjani selaku penjual itu meminta persekot Rp. 1000,- jumlah yang cukup besar untuk tahun itu. Sebagai analogi, saat itu emas 4 gram senilai Rp 5, artinya, Rp. 1000 setara dengan 800 gr emas atau sekitar Rp.640.000.000,- (diasumsikan emas Rp. 800.000/gr.
Panitia pun harus bekerja keras mengumpulkan dana namun sampai mendekati batas waktu dana yang dikumpulkan masih jauh dari harapan. Niat baik selalu didukung Allah SWT, pada saat panitia hampir putus asa, ada seorang donatur yang mencukupi semua kekurangannya. Ia adalah K.H. Abu Dardiri, seorang pengusaha dan tokoh Muhammadiyah di Purwokerto, Banyumas.
Selain pengusaha, Abu Dardiri juga beraktivitas di Muhammadiyah, bahkan pada saat Muhammadiyah Purbalingga berdiri, Ia terpilih sebagai ketua. Pada 1940 saat konferensi Muhammadiyah tingkat Karesidenan Banyumas memilih konsul, Dardiri terpilih. Ia pun kemudian pindah ke Banyumas dan jabatan ketua Muhammadiyah Purbalingga beralih kepada H. Djawari Hasjim dan KH. Sjarbini.
Nah, setelah urusan pembelian selesai dan beralih kepemilikan, gedung diberi nama “Balai Muslimin”. Selain sebagai pusat dakwah juga didirikan Pendidikan Guru Agama (PGA). Kemudian, pada perkembangannya berdiri sekolah Muhammadiyah mulai dari TK hingga SLTA.
Pendopo K.H. Ahmad Dahlan terdiri dari satu bangunan yang didirikan diatas batur setinggi kurang lebih 75 cm diatas pemukaan tanah. Gedungnya menghadap utara. Memiliki atap berbentuk limasan yang ditutup genteng. Atap serambinya ditutup dengan seng dan disangga oleh tiang-tiang besi. Di bagian serambi terdapat enam buah pilar tembok atau kolom berbentuk bulat gaya Doria dan dua kolom persegi di ujung serambi. Ciri khas ini merupakan peninggalan masa kolonial yang masih dipertahankan. Bbahkan dekorasi tatanan papan kayu disepanjang ujung atap bagian bawah pun masih ada. Leeeeengkap dengan ujungnya yang berbentuk kurawal. "Tapi atap serambi sudah ditambah luasannya untuk parkir kendaraan. Karena gedung ini sebelum jadi pendopo berfungsi sebagai kantor guru SMA Muhammadiyah 1 Purbalingga", kata Soegiman, salah seorang anggota Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM).
Secara keseluruhan gedung ini memiliki luas 19 m x 17,5 m. Dibagian depan terdapat tiga pintu yang ditutup krepyak kayu. Dan masih dapat kita temui juga pintu kasino di gedung ini. Jendela-jendela krepyak kayu lebar pun dipertahankan sesuai bentuk aslinya. Alhasil, ruangan pun terasa adem sembriwing tanpa perlu AC.
Persebaran Muhammadiyah ke berbagai penjuru Nusantara dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota. Gagasan KH. Ahmad Dahlan ternyata mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921, Kiai Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Nusantara. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.
Kabupaten Purbalingga merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang sudah terjangkau dakwah Muhammadiyah. Masyarakat Muslim Purbalingga pertama kali mengenal Muhammadiyah ketika Kiai Khotib yang diutus oleh Kiai Abu ‘Amar (Penghulu Landraad) untuk ke Yogyakarta guna mempelajari ajaran KH. Ahmad Dahlan sebelum tahun 1920 dan diperkirakan Muhammadiyah sudah masuk dan dikenal oleh masyarakat Muslim Purbalingga sekitar tahun 1918 yang dimulai lewat pengajian di desa-desa.
Sepulang Kiai Khotib dari Yogyakarta, Kiai Khotib dan Kiai Abu ‘Amar kemudian mengadakan pengajian-pengajian yang disebut dengan “Mambangil Mambahis”. Pada tahun 1920 Kiai Haji Ahmad Dahlan berkunjung ke Purbalingga. Kemudian setelah para tokoh mengikuti pengajian mereka mengembangkan ilmunya dengan mengadakan pengajian di desa masing-masing. Mereka pun di desanya memberi nama kelompok pengajiannya dengan nama yang sama yaitu “Mambangil Mambahis”. Dari situlah kemudian berkembang, mendirikan suatu organisasi yang disebut Muhammadiyah, sementara mereka di desanya masing-masing mendirikan Ranting Muhammadiyah. Tepatnya pada tanggal 30 Juni 1922 resmi berdiri Muhammadiyah cabang Purbalingga. Secara De Facto periode pertama dengan KH. Abu Dardiri sebagai ketua dan KH. Sya’roni sebagai wakilnya. Muhammadiyah Cabang Purbalingga resmi berdiri dengan surat ketetapan dari Hoof De Bestuur Muhammadiyah Yogyakarta No.5 tanggal 1 Januari 1923. Pada perkembangannya Muhammadiyah Cabang Purbalingga selanjutnya dimotivasi oleh Kiai Haji Djawari Hasyim dan Kiai Haji Syarbini.
Pusat Muhammadiyah Purbalingga awalnya berada di kompleks Masjid At-Taqwa, Kelurahan Purbalingga Wetan (Depan Kantor Kejaksaan Negeri) sebelum berpindah ke Pendopo KH Ahmad Dahlan (Sekarang kompleks SMA Muhammadiyah 1 Purbalingga). Setelah pindah dengan adanya kantor pusat yang baru menjadi ghirah baru para kader Muhammadiyah untuk memajukan syiar Islam di Purbalingga. Kantor pusat baru ini awalnya gedung yang dipinjam partai Masyumi yang kemudian dibeli oleh Muhammadiyah, KH. Abu Dardiri merupakan donatur yang melunasi pembelian gedung dan tanah tersebut.
Nama KH. Abu Dardiri banyak diabadikan di berbagai tempat seperti nama gedung (salah satunya gedung PDM Banyumas), nama masjid, dll. Di Purbalingga nama Abu Dardiri turut diabadikan sebagai nama komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Komisariat ini didirikan tanggal 6 Juni 2021. KH. Abu Dardiri menjadi inspirasi berdirinya IMM di Purbalingga. IMM di Purbalingga merupakan organisasi otonom Muhammadiyah yang baru berdiri sepanjang perjalanan sejarah Muhammadiyah di Purbalingga. Adanya komisariat IMM tersebut yang diberi nama Abu Dardiri menaruh suatu harapan besar agar semangat perjuangan KH. Abu Dardiri dapat diteruskan oleh generasi muda Muhammadiyah khususnya di Kabupaten Purbalingga.