Wapres yang Katanya Nggak kerja saat bencana Sumatra, ternyata dia yang paling Gercep

2026-01-06 10:40:06 | Opini

Card Image

Bayangkan, di sebuah pagi yang kelam, di mana sebuah wilayah luas baru saja dihapus dari peta oleh kekuatan alam. Komunikasi mati total. Listrik padam. Jalanan hilang.

Di pusat kekuasaan, orang-orang masih sibuk saling tanya, "Apa yang terjadi?" dan "Siapa yang bertanggung jawab?"

​Namun, di tengah kebingungan itu, ada seorang pria yang tidak menunggu undangan rapat. Dia tidak menunggu laporan intelijen yang diverifikasi sepuluh lapis birokrasi.

Dia hanya mendengar satu hal "Rakyatnya sedang meregang nyawa".

​Tanpa kamera yang mengikutinya untuk konten media sosial, pria ini langsung "membajak" keadaan.

Ketika anak buahnya berkata, "Pak, anggarannya belum turun, aturannya harus lewat kementerian ini dan itu," dia hanya menjawab dengan dingin "Saya yang tanggung jawab. Kalau saya harus masuk penjara karena menyelamatkan nyawa orang, saya masuk sekarang."

​Dia memerintahkan gudang-gudang beras dibuka paksa. Dia memerintahkan tentara asing masuk ke wilayah sensitif tanpa perlu stempel imigrasi yang berbelit. sebuah langkah yang secara politik dianggap "bunuh diri".

Baginya, kedaulatan tertinggi sebuah negara bukan pada batas tanah, tapi pada nyawa manusia yang masih bernapas di atasnya.

​Dia bukan tipe pemimpin yang hobi berswafoto di depan puing-puing. Dia adalah "manusia shortcut".

Dia memotong semua jalur birokrasi yang berkarat hanya untuk memastikan satu kantong mayat bisa diangkat atau satu bungkus mi instan bisa sampai ke tangan anak yang kelaparan dalam hitungan jam, bukan hari.

​Siapa Pria "Nekat" Ini?

​Mungkin sulit dipercayai bagi generasi yang terbiasa melihat bantuan harus menunggu "seremoni penyerahan simbolis", namun pria itu nyata.

​Dia adalah M. Jusuf Kalla.

​Pada tsunami Aceh 2004, beliau membuktikan bahwa jabatan Wakil Presiden bukanlah sekadar ban serep atau pajangan foto di dinding kelas.

ia adalah mesin utama yang memaksa birokrasi Indonesia yang lamban untuk berlari sekencang tsunami itu sendiri.

​Saat itu, Pak JK bertindak melampaui tugas administratifnya. JK mengambil risiko hukum dan politik yang luar biasa besar dengan mengabaikan prosedur keuangan negara yang kaku demi kecepatan evakuasi.

JK tahu betul bahwa dalam bencana, satu jam keterlambatan birokrasi adalah satu nyawa yang hilang sia-sia.

​Pada masa sekarang, di mana kita sering melihat urusan administrasi lebih dihargai daripada urgensi di lapangan, kisah Pak JK di Aceh 2004 adalah tamparan keras.

Jk menunjukkan bahwa pemimpin sejati tidak butuh "panggung", mereka hanya butuh keberanian untuk pasang badan.

Daftar Keputusan "Gila" JK yang Menabrak Protokol

​Instruksi Pembukaan Gudang Bulog Tanpa SPP

​Risikonya: Tuduhan korupsi atau penyalahgunaan wewenang karena secara hukum, beras negara tidak boleh keluar tanpa Surat Perintah Pengeluaran (SPP) yang sah.

​Logika Shortcut: Rakyat Aceh lapar detik itu juga. Menunggu surat administrasi turun dari Jakarta sama saja dengan membiarkan kelaparan massal terjadi di depan mata.

​Pemberian Izin Pendaratan Militer Asing

​Risikonya: Pelanggaran kedaulatan negara dan risiko intelijen. Beliau mengizinkan kapal induk USS Abraham Lincoln (AS) dan militer asing lainnya masuk tanpa visa atau izin resmi yang berbelit.

​Logika Shortcut: Indonesia saat itu kekurangan helikopter yang berfungsi untuk evakuasi. Militer asing memiliki logistik udara lengkap yang mampu menjangkau daerah-daerah isolir yang terputus total.

​Jaminan Anggaran Secara Lisan

​Risikonya: Pelanggaran UU Keuangan Negara karena memerintahkan menteri dan pejabat daerah memakai anggaran apa pun yang tersedia tanpa menunggu DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran).

​Logika Shortcut: Beliau secara tegas meneriaki pejabat: "Pakai uangmu dulu, kalau tidak ada, pakai uang rakyat. Nanti saya yang ganti!" Kecepatan penanganan tidak boleh disandera oleh proses pencairan uang yang kaku.

Perintah Pemakaman Massal Tanpa Identifikasi Lengkap

​Risikonya: Potensi pelanggaran hak sipil dan hukum terkait identitas jenazah.

​Logika Shortcut: Menginstruksikan pembersihan puluhan ribu mayat secepat mungkin demi kesehatan publik. Penundaan evakuasi demi prosedur identifikasi yang sempurna hanya akan memicu wabah penyakit mematikan bagi warga yang selamat.

Sistem Penunjukan Langsung Kontraktor

​Risikonya: Tuduhan kolusi dan nepotisme karena memangkas proses tender formal.

​Logika Shortcut: Menunggu proses lelang formal yang memakan waktu berbulan-bulan hanya akan membiarkan rakyat Aceh tinggal di tenda pengungsian bertahun-tahun lebih lama. Pembangunan harus segera dimulai.

Kontributor Bayu Kisnandi

Bagikan Artikel ini