Hangatnya Silaturahmi dan Pelepasan Calon Jamaah Haji: Semangat KBIHU PDM Purbalingga
2026-04-13 11:56:07 | Berita, PDM
Pada hari Ahad, 5 April 2026, suasana kehangatan dan kebersamaan begitu terasa di Pendopo Dipokusumo Kabupaten Purbalingga. Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Purbalingga sukses menyelenggarakan acara Halal Bi Halal sekaligus Pelepasan Calon Jamaah Haji dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) PDM Purbalingga. Acara ini menjadi momen istimewa untuk mempererat tali silaturahmi dan memberikan bekal spiritual bagi para calon tamu Allah.
Halal Bi Halal: Merajut Kembali Persaudaraan
Acara diawali dengan sambutan pembukaan dari Ibu Siti Khasiroh, M.Pd., yang dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al-Qur'an oleh Ust. Yulian Ferdiansyah, S.Pd. Sambutan dari Ketua KBIHU, H. Kun Abidin, S.Si., menambah semangat para hadirin. Bupati Purbalingga yang diwakili oleh Bapak Tri Gunawan Setyadi, S.H., M.H., selaku Staff Ahli, turut memberikan sambutan dan secara simbolis melepas Calon Jamaah Haji KBIHU PDM Purbalingga.
Tausiyah Penuh Makna dari Ustadz H. Sukarman, S.Ag.

Ustadz H. Sukarman, S.Ag., menyampaikan tausiyah yang mendalam mengenai makna Halal Bi Halal dan silaturahmi. Beliau menjelaskan bahwa Halal Bi Halal adalah tradisi khas Indonesia yang menjadi ajang pertemuan massal untuk saling memaafkan dan menjernihkan suasana setelah Ramadhan. Ini adalah ekspresi kegembiraan, pengakuan kesalahan, dan saling memaafkan secara langsung dalam lingkup sosial yang luas.
Sedangkan silaturahmi adalah konsep umum menyambung tali persaudaraan yang dapat dilakukan kapan saja, tanpa terikat waktu. Praktiknya lebih informal, seperti kunjungan ke rumah saudara, teman, atau orang tua. Meskipun berbeda istilah, keduanya memiliki esensi yang sama: mempererat persaudaraan dan menyucikan diri dari kesalahan antar sesama.
Beliau juga mengupas makna kata "halal" yang berasal dari akar kata ḥalla-yaḥillu, bermakna mengurai sesuatu yang kusut hingga menjadi lurus dan jernih. Kata ini sering disandingkan dengan kata thayyib (baik) dalam Al-Qur'an (disebutkan sekitar 50 kali di 20 surah) untuk merujuk pada hal-hal yang diizinkan Allah SWT.
Hikmah Halal Bi Halal
Ustadz H. Sukarman, S.Ag. menegaskan beberapa hikmah penting dari Halal Bi Halal:
- Menyempurnakan bersih kepada Allah dan sesama manusia.
- Manusia membutuhkan ungkapan verbal untuk memohon ampun dan memberi maaf.
- Membangun harmoni dan menghilangkan ganjalan dalam perkumpulan atau kantor.
- Menghilangkan beban psikologis setelah silaturahmi.
Sumbangsih Muhammadiyah untuk Bangsa Indonesia

Dalam tausiyahnya, Ustadz H. Sukarman, S.Ag. juga menyoroti berbagai sumbangsih Muhammadiyah dalam berijtihad untuk kemajuan bangsa, di antaranya:
- Tahun 1888: Meluruskan arah kiblat agar presisi menghadap Ka'bah (Fatwa MUI Nm 05 Th 2010).
- 1 Desember 1911: Mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah.
- Tahun 1912: Menggunakan Hisab Hakiki Wujudul Hilal (perhitungan astronomi) sejak awal berdiri.
- 13 Agustus 1915: Melahirkan media massa cetak tertua di Indonesia, Majalah Suara Muhammadiyah (SM), yang masih eksis hingga kini (Rekor MURI).
- 19 Mei 1917: Lahir Organisasi Perempuan pertama 'Aisyiyah.
- 18 Desember 1918: Mendirikan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW).
- 15 Februari 1923: Mendirikan Balai Pengobatan yang kini menjadi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah.
- Tahun 1924: Menyelenggarakan Halal Bi Halal (menyatukan warga yang bekerja di Belanda dan non-Belanda).
- Tahun 1926: Shalat Idh di Alun-alun Yogyakarta.
- 2021-2023: Merubah waktu Subuh minus 2 derajat (dari minus 20 menjadi minus 18).
- 25 Juni 2025: Muhammadiyah resmi meluncurkan dan mulai menerapkan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT).
Pelepasan Calon Jamaah Haji: Duyufurrahman
Istilah Duyufurrahman (tamu Allah) digunakan untuk menggambarkan jamaah haji. Ungkapan "tamu itu seperti mayat" (Adh-Dhayfu kal-mayyit) dalam konteks haji bermakna bahwa jamaah haji diperintahkan untuk pasrah, taat, dan berserah diri selama ibadah, melepaskan ego atau kesombongan, dan mengikhlaskan diri layaknya mayat, guna mencapai haji mabrur. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai manusia, ambilah manasik kalian (dariku)” (HR. Muslim, Nasai).
Umrah dan Thawaf Berulang Kali: Pandangan Tarjih Muhammadiyah
Mengenai hukum umrah dan thawaf berulang kali dalam satu safar, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah berpandangan bahwa umrah berulang kali dalam satu rangkaian ibadah haji (umrah makkiyah) tidak memiliki landasan dalil yang kuat dari Nabi Muhammad SAW. Tarjih Muhammadiyah lebih menganjurkan untuk memperbanyak thawaf, doa, atau tadarrus Al-Qur'an daripada keluar tanah haram untuk miqat.

Memperbanyak thawaf (thawaf sunnah) berulang kali saat berada di Masjidil Haram hukumnya adalah sunnah dan sangat dianjurkan. Thawaf dianggap sebagai ibadah istimewa yang lebih utama dari ibadah sunnah lainnya di Mekkah. Namun, tidak dianjurkan melakukan umrah berulang kali dalam satu safar. Shalat di Masjid Nabawi/Haram juga lebih utama, sesuai sabda Nabi Muhammad SAW:
“Sekali shalat di masjidku ini lebih utama daripada 1000 kali shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram dan sekali shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100 kali shalat di masjidku ini.” (HSR Ahmad, Ibn Hibban)
Meskipun demikian, ada pula pendapat yang menyatakan bahwa umrah lebih baik daripada thawaf.
Menapaki Jejak-Jejak Ramadhan
Ustadz H. Sukarman, S.Ag. mengingatkan akan pentingnya konsistensi ibadah pasca-Ramadhan. Beliau mengutip:
“Mereka adalah sejelek-jelek orang, karena mereka tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan saja.”
Juga:
“Barang siapa yang beribadah kepada Allah, maka sesungguhnya Allah itu Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.” (HR. Bukhari & Muslim)
Amal kebajikan dan dosa saling menyeru: “Kemarilah saudaraku.. kemarilah.” Jangan sampai kita seperti perempuan yang menguraikan tenunannya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali (QS. An-Nahl: 92).
Tanda Amal Diterima
Di antara tanda amal kebaikan diterima adalah munculnya kebaikan lain setelahnya. Sebaliknya, balasan dari amalan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya. Ini menjadi pengingat untuk terus istiqamah dalam kebaikan.
Kontributor Aziz Sembada |Editor Abdullah Aziz Sembada