Pengajian Ahad Kliwon PCM Bobotsari: Makna Kemerdekaan

2026-08-20 07:46:36 | Berita, PCM

Card Image

Pengajian Ahad Kliwon PCM Bobotsari kembali digelar pada 16 Agustus 2026 di Masjid Besar Baitul Mu'min Bobotsari. Bertepatan dengan suasana bulan kemerdekaan, kajian rutin ini menghadirkan tausiyah bertema pembersihan hati dan teladan Rasulullah sebagai kunci kemerdekaan sejati bagi seorang muslim.

Acara berlangsung khidmat sejak pukul 08.00 WIB dan dihadiri jamaah dari berbagai kalangan usia. Konsistensi PCM Bobotsari menjaga agenda ini menjadikannya salah satu wadah pembinaan rohani yang dinanti warga Muhammadiyah di wilayah Bobotsari dan sekitarnya.

Ust. Mujahidin Aziz Ungkap Taktik Iblis Menyesatkan Manusia

Pembicara utama pada kesempatan ini adalah Ust. Mujahidin Aziz, S.Pd.I (Al-Hafidz), Pimpinan Pondok Tahfidzul Quran Darussalam Slinga. Dalam tausiyahnya, beliau menyoroti dua taktik utama iblis dalam menyesatkan manusia: mendorong ibadah berlebihan hingga melampaui batas syariat, atau sebaliknya, membuat manusia meremehkan ibadah kepada Allah SWT.

Ust. Mujahidin juga mengingatkan bahaya menganggap enteng dosa-dosa kecil. Beliau menyebut adanya golongan yang kelak tidak diizinkan meminum air dari telaga Kausar di akhirat, yaitu mereka yang semasa hidup terbiasa meremehkan dosa yang diperbuatnya.

Bersyukur atas Nikmat Sederhana yang Sering Terlupakan

Pembahasan berlanjut pada bentuk syukur atas nikmat dunia. Menurut Ust. Mujahidin, nikmat paling mendasar namun kerap terlupakan adalah kemampuan makan dengan tenang dan rasa aman dalam kehidupan sehari-hari. Iblis, jelasnya, senantiasa berusaha "menjajah" manusia lewat kesenangan duniawi yang melenakan, membuat manusia lupa bersyukur dan lupa akan kebesaran Allah SWT dalam setiap langkah hidupnya.

Makna Kemerdekaan Sejati bagi Seorang Muslim

Momen kemerdekaan yang dirayakan bulan ini menjadi pintu masuk bagi Ust. Mujahidin untuk mengurai makna kemerdekaan dari sudut pandang keislaman. Menurutnya, kemerdekaan sejati adalah ketika seorang hamba mampu membebaskan diri dari belenggu godaan iblis yang senantiasa menyesatkan.

Pandangan ini sejalan dengan kajian resmi PP Muhammadiyah yang menegaskan bahwa kemerdekaan dalam Islam bersifat holistik, tidak hanya menyangkut aspek material tetapi juga spiritual, berlandaskan tauhid dan tanggung jawab menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, serta harta. Prinsip inilah yang mendasari penekanan Ust. Mujahidin bahwa kebebasan sejati bermula dari kebersihan akidah.

Selain itu, kemerdekaan juga dimaknai sebagai upaya membebaskan diri dari keyakinan yang keliru. Seorang muslim, menurut beliau, harus berani melepaskan pemahaman yang tidak sesuai syariat agar dapat menjalankan ketaatan dengan hati yang lurus, bersih dari syirik maupun bid'ah. Bagi jamaah yang ingin mendalami akar dalil kemerdekaan ini, tersedia pula kajian mendalam makna kemerdekaan dalam Al-Qur'an yang mengupas konsep al-hurriyah secara komprehensif.

Meneladani Rasulullah sebagai Kunci Kemerdekaan Rohani

Sebagai penutup tausiyah, Ust. Mujahidin Aziz menegaskan bahwa cara terbaik membebaskan diri agar fokus beribadah kepada Allah adalah dengan mencontoh kepribadian dan perilaku Nabi Muhammad SAW. Dengan menjadikan Rasulullah sebagai teladan utama, setiap muslim diharapkan mampu menjaga kemerdekaan rohaninya hingga akhir hayat.

Pesan ini relevan pula dengan latar keilmuan Ust. Mujahidin sebagai pengasuh Pondok Tahfidzul Quran Darussalam Slinga <!-- verifikasi URL -->, tempat pembinaan akhlak dan hafalan Al-Qur'an menjadi fondasi utama pembentukan karakter santri.

Penutup: Terus Hadir di Kajian Rutin PCM Bobotsari

Pengajian Ahad Kliwon menjadi bukti konsistensi PCM Bobotsari dalam merawat spiritualitas warga Muhammadiyah di tengah dinamika kehidupan modern. Bagi jamaah yang ingin mengikuti kajian serupa, PCM Bobotsari membuka pintu bagi siapa saja tanpa terkecuali.

Kontributor MPI PCM Bobotsari |Editor Abdullah Aziz Sembada

Bagikan Artikel ini