RINGKASAN PERISTIWA PENTING PENANDA AKHIR ZAMAN

2026-03-11 11:37:23 | Opini

Card Image

Tulisan ini akan dimualai dengan sebuah hadits yang mendasarinya, yaitu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara kepada para shahabat beliau radhiyallahu ‘anhum dan menjelaskan masa depan Islam:

 

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً عَاضّاً فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

“Kenabian akan tetap berada di antara kalian selama Allah menghendaki, dan Allah akan mencabutnya ketika Dia menghendaki. Kemudian akan berlaku masa khilafah yang mengikuti jejak kenabian (khilafah ‘alaa minhaajin-nubuwwah), dan akan tetap berada selama Allah berkehendak, dan Allah akan mencabutnya ketika Dia menghendaki. Kemudian diikuti masa kerajaan yang di dalamnya manusia akan menghadapi cobaan dan kesengsaraan (mulkan ‘adhan), dan kerajaan itu akan tetap ada selama Allah menghendakinya, dan Allah akan menyingkirkannya ketika Dia menghendaki. Kemudian setelah itu akan muncul kerajaan yang menindas (mulkan jabbariyyah), dan akan terus ada selama Allah berkehendak, kemudian Dia akan menghapusnya ketika Dia menghendakinya. Kemudian sekali lagi akan muncul khilafah yang mengikuti jejak kenabian (khilafah ‘alaa minhaajin nubuwwah). Setelah itu beliau diam.” [Musnad Ahmad bin Hanbal, Kitab al-Riqaq, Bab al-Andhar wa al-Tahdhir]

 

1.       Fase Nubuwwah (Kenabian)

Masa dimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup.

2.       Fase Khilafah 'alaa minhaj an-Nubuwwah Pertama

Masa dimana Khulafaau Ar-Rasyidin dan ada yang mengatakan ditambah dengan kepemimpinan Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu.

3.       Fase Mulkan 'Aadhdhon (Menggigit/Dzalim)

Masa dimana yang dalam sejarah disebut sebagai Khilafah Umayyah, Khilafah Abbasiyyah dan Khilafah Utsmaniyyah.

 

 

 

4.       Fase Mulkan Jabriyyah (Kediktatoran)

Masa sekarang ini dimana dikatakan dengan adanya ciri-ciri seperti ditumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah, dicuri/diambil uang dan harta orang yang tidak bersalah, dan kehormatan orang dihancurkan.

 

Berdasarkan berbagai sumber yang penulis dapatkan, kami mempunyai beberapa analisis bahwa dicantara fase keempat dan kelima terjadi peristiwa yang disebut hancurnya mulkan jabriyyah (fase kediktatoran). Yang terjadi adalah dengan adanya atau munculnya perang besar-besaran.

 

Perang dimana semua kekuatan besar (super power) terlibat. Perang dimana semua adikuasa di dunia ini mencari atau memperebutkan sumber daya “alam” yang baru atau mungkin juga sumber daya “alam” yang lama yang ditemukan dalam satu wilayah dengan jumlah yang sangat banyak. Sehingga semua super power akan saling berperang untuk mengambilnya.

 

Perang ini bukanlah perang antara umat Islam dengan kekuatan-kekuatan tersebut, yang bahkan ada larangan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umat Islam agar tidak mengikuti perang tersebut.

 

Dikatakan akan hancurnya mulkan jabriyyah karena mereka yang terlibat di dalamnya akan mengalami kelelahan yang begitu rupa, dan mereka akan fokus untuk mengurus diri sendiri. Dan pada faktanya beragam negeri-negeri muslim itu mendapatkan dukungan dari kekuatan super power. Sehingga kondisi negeri muslimpun akan ikut melemah atau terpengaruh. Hingga kemudian berkembang menjadi sebuah seruan atau tuntutan dari umat Islam khususnya untuk mewujudkan adanya kepemimpinan yang tidak dzalim, dan pelan-pelan akan muncul atau bangkit kepemimpinan yang adil, yang bukan pengkhianat, yang tidak didukung oleh kekuatan super power berdasarkan seruan atau tuntutan dari umat.

 

Kondisi tersebut juga akan menyebabkan Israel akan dikelilingi oleh negeri-negeri yang kuat, adil, bangkit. Dan sebaliknya, justru Israel akan menemukan pada dirinya menjadi kekuatan yang melemah serta kelelahan karena mungkin bisa jadi Israel menjadi salah satu negara yang terlibat, atau paling tidak akan mulai pudarnya dukungan dari kekuatan adikuasa.

 

Dampaknya adalah dengan bebasnya atau merdekanya Baitul Maqdis, dan Israel akan keluar dari Baitul Maqdis. Umat Islam di situ akan kembali memimpin tanah airnya sendiri terlepas dari penjajahan Israel dan sekutunya. Dan pada kondisi ini, dimana Baitul Maqdis sudah terbebas atau merdeka, sosok Imam Al-Mahdi belumlah muncul. Sehingga penulis berpandangan Baitul Maqdis merdeka atau kembali ke pangukan umat Islam terjadi sebelum  munculnya Imam Al-Mahdi, yang artinya bukan Imam Al-Mahdi yang membebaskan Baitul Maqdis.

 

Dalilnya antara lain sebagai berikut:

 

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ، فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ، تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ: لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو

Artinya, “Kiamat tidak akan terjadi sampai al-furat mengering sehingga muncullah gunung emas. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang (yang memperebutkannya), terbunuhlah sembilan puluh sembilan orang. Setiap orang dari mereka mengatakan, ‘Mudah-mudahan aku-lah orang yang selamat,” [HR Muslim]

 

عن أبي بن كعب قال: "لا يزال الناس مختلفة أعناقهم في طلب الدنيا سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: يوشك أن ينحسر الفرات عن جبل من ذهب فإذا سمع به الناس ساروا إليه فيقول من عنده لئن تركنا الناس يأخذون منه ليذهبن به كله قال: فيقتتلون عليه فيقتل من كل مائة تسعة وتسعون

Artinya, “Dari Ubai bin Ka'ab berkata, ‘Orang-orang terus sibuk mencari dunia. ‘Hampir saja Furat terbuka dan banyak simpanan emas. Saat mendengarnya, orang-orang menghampirinya lalu orang yang didekatnya berkata, ‘Bila kita biarkan orang-orang mengambilnya, mereka akan menghabiskan semuanya.’ Rasul bersabda, ‘Mereka berperang karenanya, dari setiap seratus orang, sembilan puluh sembilannya terbunuh.”

 

عَنْ أَبِي هُرَيرَةَ قالَ: قالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: "يُوشِكُ الفُرَاتُ يَحْسِرُ عن كَنْزِ مِنْ ذّهَبِ، فَمَنْ حَضَرَهُ فَلاَ يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئاً

Artinya, “Hampir terbuka al-furat dengan (beirisi) simpanan emas. Siapa yang mendatanginya jangan sekali-kali mengambilnya,” [HR At-Tirmidzi]

Setelah Baitul Maqdis merdeka, maka negeri-negeri kaum Muslimin akan mempunyai kesadaran Bersama dan ide yang sama. Bahwa mereka semua punya tujuan yang sama, mereka berhasil bekerja sama, mereka berhasil membebaskan Baitul Maqdis. Sehingga muncullah ide, “Kenapa kita umat Islam tidak berkumpul di bawah satu kepemimpinan atau negara dengan mempunyai satu pemimpin?” atau “Kenapa kita tidak bersatu kembali?”. Ada yang mengatakan bahwa meski ada satu pemimpin untuk umat Islam, akan tetapi masing-masing negeri masih mempunyai atau menjaga otonominya. Dan betul, In Syaa Allah terbentuklah satu kepemimpinan (negara) baru dan akan dipilih satu pemimpin yang memimpin negara besar tersebut. Dan catatan pentingnya adalah, bahwa pemimpin yang dimaksud tersebut bukanlah/belumlah Imam Al-Mahdi.

 

5.       Fase Khilafah 'alaa minhaj an-Nubuwwah Kedua

Masa dimana nantinya Imam Al-Mahdi akan muncul dan bentuk janji kemenangan umat Islam dari Allah ta’ala. Beberapa dalilnya, baik dari Al-Qur’an dan juga hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

 

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Artinya: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

[QS. An-Nuur: 55]

 

لاَ يَزَالُ الدِّينُ قَائِمًا حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ أَوْ يَكُونَ عَلَيْكُمْ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ

“Agama Islam akan senantiasa tegak hingga terjadi Hari Kiamat atau ada di antara kalian dua belas khalifah, semuanya dari Quraisy.” [HR Muslim dan Ahmad]

 

 

Ini adalah hadiah dari Allah ta’ala kepada umat Islam dengan adanya 12 pemimpin yang akan membawa umat Islam menjadi umat yang kuat. Di antara 12 pemimpin (khalifah) tersebut salah satunya adalah Imam Al-Mahdi. Meskipun demikian, para ulama berbeda pendapat tentang pembagian dari 12 pemimpin tersebut, antara lain:

a.      Di antara 12 pemimpin itu ada 4 yang sudah ada di awal zaman dan 8 yang akan ada di akhir zaman. 4 di awal itu adalah Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin ‘Affan, dan ‘Ali bin Abi Thalib. Dan dari 8 pemimpin salah satunya adalah Imam Al-Mahdi.

b.     Di antara 12 pemimpin itu ada 5 yang sudah ada di awal zaman dan 7 yang akan ada di akhir zaman. 4 di awal itu adalah Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, dan Al-Hasan. Dan dari 7 pemimpin salah satunya adalah Imam Al-Mahdi.

c.      Di antara 12 pemimpin itu ada 6 yang sudah ada di awal zaman dan 6 yang akan ada di akhir zaman. 4 di awal itu adalah Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan, dan Umar bin Abdul Aziz. Dan dari 6 pemimpin salah satunya adalah Imam Al-Mahdi.

 

Dan sampai tulisan ini dibuat, penulis mempunya pendapat bahwa Imam Al-Mahdi adalah pemimpin yang terakhir dari 12 pemimpin tersebut, allahu a’lam. Dasar yang menjadi argumennya adalah karena di zaman Imam Al-Mahdi nantinya, akan terjadi banyak peristiwa antara lain: Dajjal akan muncul, Nabi Isa ‘alaihi sallam akan turun, Umat Islam akan damai dengan bangsa Rum, Umat Islam akan bersatu (berkoalisi) dengan bangsa Rum untuk melawan satu musuh yang datang dari belakang, dan lain sebagainya.

 

Kemudian adanya peristiwa seperti perang besar dimulai dari ramainya Baitul Maqdis atau Al Aqsa di Yerusalem, lalu hancurnya kota Madinah. Maka meletuslah perang besar, lalu kota Konstantinopel (Turki) dibuka dan itu tanda keluarnya Dajjal.

 

حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ مَكْحُولٍ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ يَخَامِرَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُمْرَانُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ خَرَابُ يَثْرِبَ وَخَرَابُ يَثْرِبَ خُرُوجُ الْمَلْحَمَةِ وَخُرُوجُ الْمَلْحَمَةِ فَتْحُ قُسْطَنْطِينِيَّةَ وَفَتْحُ الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ خُرُوجُ الدَّجَّالِ ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى فَخِذِ الَّذِي حَدَّثَهُ أَوْ مَنْكِبِهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ هَذَا لَحَقٌّ كَمَا أَنَّكَ هَاهُنَا أَوْ كَمَا أَنَّكَ قَاعِدٌ يَعْنِي مُعَاذَ بْنَ جَبَل

“Telah menceritakan kepada kami Abbas Al 'Anbari berkata, telah menceritakan kepada kami Hasyim Ibnul Qasim berkata, telah menceritakan kepada kami 'Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban dari Bapaknya dari Makhul dari Jubair bin Nufair dari Malik bin Yukhamir dari Mu'adz bin Jabal ia berkata, "Rasulullah bersabda, "Ramainya Baitul Maqdis adalah tanda kehancuran kota Madinah, hancurnya kota Madinah adalah tanda terjadinya peperangan besar, terjadinya peperangan besar adalah tanda dari pembukaan kota Konstantinopel, dan pembukaan kota Konstantinopel adalah tanda keluarnya Dajjal." Kemudian beliau menepuk-nepuk paha orang yang beliau ceritakan tentang hadits tersebut, atau dalam riwayat lain, 'pundaknya.' Kemudian bersabda, "Semua ini adalah sesuatu yang benar, sebagaimana engkau -Mu'adz bin Jabal- sekarang berada di sini adalah sesuatu yang benar.” [HR. Abu Daud]

 

Perang besar itu terjadi selama tujuh bulan.

 

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ النُّفَيْلِيُّ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ سُفْيَانَ الْغَسَّانِيِّ عَنْ يَزِيدَ بْنِ قُتَيْبٍ السَّكُونِيِّ عَنْ أَبِي بَحْرِيَّةَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَلْحَمَةُ الْكُبْرَى وَفَتْحُ الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ وَخُرُوجُ الدَّجَّالِ فِي سَبْعَةِ أَشْهُر

“Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad An Nufail berkata, telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus dari Abu Bakr bin Abu Maryam dari Al Walid bin Sufyan Al Ghassani dari Yazid bin Qutaib As Sakuni dari Abu Bahriyah dari Mu'adz bin Jabal ia berkata, "Rasulullah bersabda, "Peperangan besar, pembukaan Konstantinopel dan keluarnya Dajjal terjadi selama tujuh bulan.” [HR. Abu Daud]

 

Peperangan terjadi enam tahun lalu muncul Dajjal pada awal tahun ke tujuh.

 

حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ عَنْ بَحِيرٍ عَنْ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ أَبِي بِلَالٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَ الْمَلْحَمَةِ وَفَتْحِ الْمَدِينَةِ سِتُّ سِنِينَ وَيَخْرُجُ الْمَسِيحُ الدَّجَّالُ فِي السَّابِعَةِ قَالَ أَبُو دَاوُد هَذَا أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ عِيسَى

“Telah menceritakan kepada kami Haiwah bin Syuraih Al Himshi berkata, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah dari bahir dari Khalid dari Ibnu Abu Bilal dari Abdullah bin Busr bahwa Rasulullah bersabda, "Antara peperangan dan pembukaan kota Konstantinopel jaraknya enam tahun, lalu Al Masih Ad Dajjal keluar pada awal tahun ke tujuh." Abu Daud berkata, "Ini lebih shahih ketimbang hadits Isa.". [HR. Abu Daud]

 

6.       Baitul Maqdis akan merdeka sebagaimana sudah dijelaskan di atas yakni antara fase keempat dan kelima. Kemudian setelah itu akan ada kepemimpinan umat Islam yang baru yang menandai adanya fase kelima, bahkan dikatakan Baitul Maqdis menjadi pusat atau ibu kotanya, allahu a’lam, sebagaimana hadits berikut:

 

يَا ابْنَ حَوَالَةَ، إِذَا رَأَيْتَ الْخِلَافَةَ قَدْ نَزَلَتِ الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ فَقَدْ دَنَتِ الزَّلَازِلُ وَالْبَلَايَا وَالْأُمُورُ الْعِظَامُ، وَالسَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ إِلَى النَّاسِ مِنْ يَدَيَّ هَذِهِ مِنْ رَأْسِكَ

“Wahai Ibnu Hawalah, jika engkau melihat kekhilafahan telah turun di bumi Al-Maqdis, maka itu pertanda telah dekatnya berbagai goncangan dan peristiwa-peristiwa besar bagi umat manusia. Kiamat lebih dekat kepada mereka daripada dekatnya telapak tanganku kepada kepala mu ini.” [HR Ahmad : 5/288, Abu Dawud : 3/19 dishahihkan oleh Imam Al-Albani rahimahullah di dalam Shahih Sunan Abu Dawud : 2210 Dishahihkan pula oleh Syaikh Hamud At-Tuwaijiri di dalam kitab Ithaful Jama’ah : 2/178]

 

7.       Kehancuran Madinah (Yatsrib) yang mana peristiwa ini dimungkinkan dengan adanya beberapa sebab, yaitu adanya perang saudara atau adanya negara asing yang menyerang Madinah setelah bebasnya Baitul Maqdis.

 

8.       Dengan merdekanya Baitul Maqdis dan hancurnya Madinah, maka kemudian akan ada ketegangan antara umat Islam dengan barat yang ditandai dengan adanya perang "kecil-kecilan" antara umat Islam dengan Barat (Rum). Disebutkan dalam Riwayat bahwa saat terjadi perang tersebut atau saat masa ketegangan tiba-tiba akan muncul musuh yang sangat besar dari belakangnya. Musuh yang sangat besar itu jumlahnya sangat besar dan juga ingin menyerang Barat (Rum). Maka umat Islam dan Barat (Rum) akan membuat perjanjian damai.

 

Dalam sebuah hadits yang panjang Rosulullah Saw menjelaskan peristiwa ini: “Kalian (kaum muslimin) akan mengadakan perdamaian dengan Bangsa Rum dalam keadaan aman. Lalu kalian akan berperang bersama mereka melawan suatu musuh di belakang mereka. Maka kalian akan selamat dan mendapatkan harta rampasan perang. Kemudian kalian akan sampai ke sebuah padang rumput yang luas dan berbukit bukit. Maka berdirilah seorang laki laki dari kaum Rum lalu ia mengangkat tanda Salib dan berkata, ‘Salib telah menang’. Maka datanglah kepadanya seorang lelaki dari kaum muslimin, lalu ia membunuh laki laki Rum tersebut. Lalu kaum Rum berkhianat dan terjadilah peperangan, dimana mereka akan bersatu menghadapi kalian di bawah 80 bendera, dan di bawah tiap tiap bendera terdapat dua belas ribu tentara”. [HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah]

 

Dan Rasulullah Saw juga bersabda, “Kalian akan memerangi Jazirah Arab, maka Allah akan menaklukkannya untuk kalian. Kemudian kalian akan memerangi Bangsa Persia, maka Allah menaklukkannya untuk kalian. Kemudian kalian akan memerangi Bangsa Romawi, maka Allah menaklukannya untuk kalian. Kemudian kalian akan memerangi Dajjal, maka Allah pun mengalahkannya untuk kalian”. [HR. Muslim]

 

9.       Umat Islam dikhianati, dan Kota Istanbul (Konstantinopel) dijajah kembali. Sehingga akan membuat terjadinya perang besar (al-malhamah – akan tetapi ini bukanlah al-malhamah al-kubro di akhir zaman) di Negeri Syam dan umat Islam menang, dan kota Istanbul kembali ke umat Islam lagi.

 

Akan tetapi ulama dan ahli sejarah bingung karena disebutkan dalam hadits shahih bahwa yang masuk Kora Istanbul untuk kedua kalinya setelah kembali lagi ke tangan umat Islam adalah 70.000 prajurit muslim keturunan Bani Ishaq keturuan Barat (Rum). Dan akhirnya disepakati bahwa karena banyak dari orang-orang Barat yang akhirnya mendapatkan hidayah dan memeluk agama Islam dan mereka akan menjadi bagian dari tentara umat Islam. Dan menurut penjelasan dari Syaikh Muhammad Al-Fuli Imam Al-Mahdi akan keluar di saat peperangan besar antara Umat Islam dan Barat, tapi tidak ada yang mengetahui kapan tepatnya Imam Al-Mahdi akan keluar. Adapun yang bisa dipastikan adalah bahwa saat terjadinya perang besar tersebut Imam Al-Mahdi sudah ada, dan di saat Dajjal keluar, Imam Al-Mahdi juga sudah ada.

 

Dalam pendapat yang lain misalnya dalam buku “Fitnah & Petaka Akhir Zaman: Detik-detik Menuju Hari Kehancuran Alam Semesta” yang disusun oleh Abu Fatiah Al-Adnani dikatakan, pertempuran Al Malhamah Kubra akan meletus di Dabiq, sebuah wilayah di pinggiran Kota Halab, Suriah. Perang terdahsyat ini melibatkan pasukan Islam yang dipimpin oleh Al-Mahdi dan pasukan Eropa Romawi, totalnya sekitar 960 ribu pasukan. Disebutkan dalam sumber yang sama, Al-Malhamah Al-Kubra akan terjadi selama 4 hari (babak) berturut-turut. Di mana 1/3 dari kaum Muslimin melarikan diri dari pertempuran, 1/3 lagi mati syahid, dan 1/3 sisanya akan mendapatkan kemenangan. Jumlah korban yang berjatuhan akibat pertempuran ini sangat besar. Dalam salah satu sumber disebutkan, perbandingannya sekitar 5 juta : 100 atau dari 5 juta orang, hanya 50 ribu darinya yang masih hidup. Angka ini berbeda-beda antara satu sumber dan lainnya.

 

Berikutnya yang secara langsung berkiatan dengan hari tanda-tanda hari kiamat sebagaiman dalam hadits berikut:

 

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ أَسِيدٍ الْغِفَارِيِّ قَالَ اطَّلَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ فَقَالَ مَا تَذَاكَرُونَ قَالُوا نَذْكُرُ السَّاعَةَ قَالَ إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنْ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ

Artinya: “Dari Hudzaifah bin Asid Al Ghifari berkata, Rasulullah SAW menghampiri kami saat kami tengah membicarakan sesuatu. Ia bertanya, ‘Apa yang kalian bicarakan?’ Kami menjawab, ‘Kami membicarakan kiamat.’ Ia bersabda, ‘Kiamat tidaklah terjadi sehingga kalian melihat sepuluh tanda-tanda sebelumnya.’ Rasulullah menyebut kabut, Dajjal, binatang (ad-dābbah), terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa bin Maryam AS, Ya'juj dan Ma'juj, tiga gerhana; gerhana di timur, gerhana di barat dan gerhana di jazirah Arab dan yang terakhir adalah api muncul dari Yaman menggiring manusia menuju tempat perkumpulan mereka,” (Lihat Abul Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim An-Naisaburi, Al-Jāmi’us Ṣaḥīḥ, [Beirut, Dārul Afaq Al-Jadidah: tanpa tahun], juz VIII, halaman 178).

 

10.    Istanbul kembali ke tangan Umat Islam setelah tahun keenam dari perang besar tersebut dan di tahun ketujuh Dajjal keluar yang menurut keterangan akan tetap ada di Bumi selama 40 hari --- hari pertama ibarat setahun, hari kedua ibarat sebulan, dari ketiga ibarat seminggu, dan hari-hari berikutnya merupakan hari biasa sehingga jika ditotal sekitar 1 tahun 2 bulan.

11.    Turunnya Nabi Isa AS untuk membunuh Dajjal.

12.    Keluarnya Ya'juj dan Ma'juj.

13.    Tiga gempa besar (gempa dari arah timur, gempa dari arah barat dan gempa di Jazirah Arab).

14.    Munculnya Dabbatul Ardh (hewan yang bicara dengan manusia).

15.    Satu hari setelah munculnya Dabbatul Ardh maka Matahari terbit dari Barat (pintu taubat akan ditutup).

16.    Dukhan (kabut asap tebal).

17.    Kebakaran besar di wilayah Hijaz.

18.    Angin lembut (diutus mencabut nyawa orang mukmin dan membiarkan nyawa orang Kafir).

19.    Api yang sangat besar dari arah Yaman yang menggiring manusia ke Padang Mahsyar.

20.    Tiupan pertama dan tiupan kedua dari Malaikat Isrofil.

Kontributor Lutfi Sarif Hidayat

Bagikan Artikel ini