Muhammadiyah Menapaki Abad Ke-2 Menuju Maju, Profesional dan Modern

2026-07-31 07:34:46 | Opini

Card Image

Lebih dari 1 abad tepatnya 114 th sudah Muh. berkiprah di Nsantara dan di luarnegri 

Muhammadiyah menapaki abad kedua dengan fokus transformasi menjadi gerakan Islam berkemajuan yang maju, profesional, dan modern. Hal ini diwujudkan melalui penguatan tata kelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), digitalisasi dakwah, serta peningkatan kapasitas ekonomi dan pendidikan umat berbasis manajemen yang transparan serta akuntabel. 

Fokus Transformasi Abad Kedua

  1. Manajemen Profesional: Mengelola aset dan organisasi dengan sistem yang terukur, transparan, serta berbasis standar mutu tinggi.

  2. Modernisasi Lembaga: Memperluas pemanfaatan teknologi dan digitalisasi dalam sistem pelayanan kesehatan, pendidikan, serta dakwah.

  3. Penguatan Ekonomi: Mengembangkan gerakan socio-entrepreneurship melalui Badan Usaha Milik Muhammadiyah (BUMM) untuk kemandirian umat.

  4. Gerakan Pencerahan: Menghadirkan solusi nyata atas masalah keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal. 

Dewasa ini, setidaknya ada tiga ranah utama Muhammadiyah dalam perannya yang  dikembangkan, yaitu pendidikan (shooling), kesehatan (healing), sosial (feeding). Hal ini tidak terlepas dari spirit yang dilakukan Kiai Dahlan dengan teologi al-Ma’un dan Al Asyr. Pada saat itu, salah satu ilmu yang diajarkan Kiai Dahlan kepada murid-muridnya yaitu memahami makna dari surat al-Ma’un. Pengajian tersebut dilakukannya selama tiga bulan sampai murid-muridnya paham makna yang terkandung di dalamnya. Ternyata, selain mengajarakan tentang surat al-Ma’un, jauh sebelum itu Kiai Dahlan mengajarkan kepada murid-muridnya tentang makna surat al-‘Ashr. Kiai Dahlan mngajarakan dan mengulang-ulang surat al-‘Ashr ini kepada muridnya selama 7 bulan

Dari surat al-Ashr, dapat diperoleh empat pilar untuk membangun peradaban yang berkemajuan. :

Pilar pertama, ayat amanu iman (paradigma tauhid) sebagai sebuah pilar yang mendasar, esensinya adalah menghadirkan Allah Swt dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dipahami dari penggalan. Tauhid merupakan intisari peradaban Islam. 

Pilar kedua, ayat wa tawashau bil haq. ilmu pengetahuan, teknologi, dan ipteks yang dipahami dari penggalan Kata al-Haq dipahami sebagai simbol dari ilmu. Kebenaran relatif inilah yang dimaksud sebagai ilmu pengetahuan teknologi Kebudayaan atau peradaban maju.

Pilar ketiga, ayat amilush saliha  kerja keras, produktif, mendapat pengakuan baik dari manusia maupun ridha Allah yang dipahami dari penggalan (amal shalih). Sebagai bentuk kerja peradaban yang melahirkan kreativitas masyarakat yang membentuk sebuah kebudayaan. Peradaban menciptakan kebudayaan, dan kebudayaan menciptakan perangai manusia, sebaliknya manusia menciptakan kebudayaan dan kebudayaan akan membentuk peradaban.

Pilar keempat, ayat wa tawasha bi al-shabr. adalah moralitas yang dapat dipahami dari penggalan Kesabaran adalah simbol dari moral, sehingga peradaban utama harus dibangun atas moralitas utama. 

Transformasi Muhammadiy Menuju Organisasi Maju Profesional & Modern (MPM)

Makna “MAJU” yaitu : bertambahnya jumlah amal usaha, meningkatnya kualitas, daya saing, dan pengaruh Muhammadiyah di tengah masyarakat. Sekolah Muhammadiyah tidak cukup hanya banyak, tetapi harus menjadi pilihan utama masyarakat. Rumah sakit Muhammadiyah tidak cukup hanya hadir, tetapi harus unggul dalam pelayanan dan kepercayaan publik. Gerakan yang maju adalah gerakan yang mampu memimpin perubahan, bukan sekadar mengikuti keadaan.

Makna “PROFESIONAL” berarti Muhammadiyah dikelola dengan sistem yang baik, terukur, dan akuntabel. Semangat ikhlas tetap menjadi ruh utama, tetapi keikhlasan harus diperkuat dengan tata kelola yang rapi. Program harus memiliki target yang jelas, SDM harus dibina secara serius, dan setiap amal usaha perlu diukur dampaknya. Profesionalitas bukan berarti menghilangkan ruh dakwah, tetapi memastikan dakwah berjalan lebih efektif, tertata, dan berkelanjutan.

Makna “MODERN” berarti Muhammadiyah mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pengelolaan organisasi tidak lagi cukup dilakukan secara konvensional, tetapi harus berbasis data, teknologi, dan kolaborasi. Era digital menuntut kecepatan informasi, integrasi sistem, dan kemampuan membangun jejaring yang luas. Muhammadiyah harus hadir sebagai gerakan Islam yang tidak hanya kuat secara nilai, tetapi juga unggul dalam inovasi dan manajemen modern.

Kontributor H. Sukarman, S.Ag

Bagikan Artikel ini