Kurikulum Pendidikan Muhammadiyah: Pembaharuan atau Melanjutkan Tradisi Pendidikan Ahmad Dahlan?
2026-07-27 18:22:55 | Opini
Kurikulum Pendidikan Muhammadiyah pada hakikatnya bukan memilih antara pembaharuan atau melanjutkan tradisi Ahmad Dahlan, melainkan melanjutkan tradisi pembaharuan yang diwariskan oleh KH. Ahmad Dahlan. Tradisi terbesar yang diwariskan pendiri Muhammadiyah bukanlah sekadar bentuk kurikulum, metode mengajar, atau mata pelajaran tertentu, tetapi semangat tajdid (pembaharuan), integrasi ilmu agama dan ilmu umum, serta pendidikan yang berorientasi pada pemecahan persoalan umat.
Pada awal abad ke-20, KH. Ahmad Dahlan melakukan kritik terhadap dualisme pendidikan. Di satu sisi terdapat pendidikan tradisional yang kuat dalam ilmu agama tetapi kurang memperhatikan ilmu pengetahuan modern, sedangkan di sisi lain sekolah kolonial menguasai ilmu umum namun minim pembinaan akhlak dan nilai keislaman. Karena itu, beliau menghadirkan model pendidikan yang memadukan keduanya sehingga lahir manusia yang beriman, berilmu, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Dalam konteks abad ke-21, tantangan pendidikan telah berubah. Revolusi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), globalisasi, krisis lingkungan, dan perubahan sosial menuntut kurikulum Muhammadiyah untuk terus beradaptasi. Oleh sebab itu, pembaharuan kurikulum bukan berarti meninggalkan warisan Ahmad Dahlan, tetapi justru menjalankan prinsip yang beliau teladankan: Islam yang berkemajuan. Kurikulum Muhammadiyah perlu mengembangkan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, kepemimpinan, kewirausahaan, dan karakter Al-Islam Kemuhammadiyahan secara terpadu agar peserta didik mampu menjadi kader persyarikatan sekaligus warga dunia yang kompeten.
Namun, pembaharuan tidak boleh menghilangkan identitas Muhammadiyah. Kurikulum harus tetap berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah, memperkuat nilai-nilai tauhid, akhlak mulia, semangat amar ma'ruf nahi munkar, serta membentuk pelajar yang memiliki integritas, kepedulian sosial, dan semangat dakwah. Jika pembaharuan hanya mengejar perkembangan teknologi tanpa memperkuat nilai-nilai tersebut, maka pendidikan Muhammadiyah akan kehilangan ruh yang diwariskan KH. Ahmad Dahlan.
Dengan demikian, kurikulum Pendidikan Muhammadiyah idealnya dipahami sebagai kurikulum yang melanjutkan tradisi pembaharuan Ahmad Dahlan, bukan mempertentangkan antara tradisi dan inovasi. Kesetiaan terhadap Ahmad Dahlan bukan diwujudkan dengan mempertahankan bentuk pendidikan masa lalu, tetapi dengan menjaga nilai-nilai dasar perjuangannya sambil terus melakukan inovasi sesuai kebutuhan zaman. Inilah esensi pendidikan Muhammadiyah sebagai pendidikan Islam yang berkemajuan.
Referensi:
1. Wahyu Lenggono. Lembaga Pendidikan Muhammadiyah (Telaah Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan tentang Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia). Islamadina, Vol. 19 No. 1 (2018).
2. Mu'arif. Pemikiran Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan: Tinjauan Filsafat Pendidikan Progresivisme. Tesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2017).
3. Fandi Ahmad. Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan tentang Pendidikan dan Implementasinya. Profetika: Jurnal Studi Islam, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
4. Yusril, Dahlan Lama Bawa, & St. Rajiah. Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan tentang Pembaharuan Pendidikan di Indonesia. PILAR: Jurnal Kajian Islam Kontemporer.
5. Tri Setiyarini. Pandangan K.H. Ahmad Dahlan tentang Pembelajaran Kreatif-Produktif. Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah.
Kontributor Riko Adi Viantoro, S.Pd