Kurikulum Merdeka dan Tantangan Membentuk Generasi Berkarakter
2026-07-27 09:30:08 | Opini
Di tengah derasnya arus digitalisasi, dunia pendidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Sekolah tidak lagi hanya dituntut mencetak peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang mampu menjaga integritas, memiliki kepedulian sosial, serta menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan agama. Sayangnya, berbagai fenomena yang terjadi justru menunjukkan bahwa persoalan karakter masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.
Kasus perundungan di lingkungan sekolah, rendahnya etika dalam bermedia sosial, meningkatnya perilaku tidak jujur, hingga menurunnya rasa hormat kepada guru dan orang tua menjadi gambaran bahwa kecerdasan intelektual belum selalu berjalan beriringan dengan kematangan karakter. Anak-anak kita hidup di era yang menawarkan kemudahan memperoleh informasi, tetapi pada saat yang sama juga menghadapkan mereka pada beragam nilai yang tidak selalu sejalan dengan budaya bangsa maupun ajaran agama.
Kondisi tersebut mengingatkan kita bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya bertugas mengajarkan ilmu pengetahuan. Pendidikan memiliki amanah yang jauh lebih besar, yaitu membentuk manusia. Manusia yang tidak hanya mampu berpikir kritis, tetapi juga mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta memiliki keberanian untuk memilih jalan yang benar.
Dalam konteks inilah Kurikulum Merdeka hadir. Selama beberapa tahun terakhir, kurikulum ini sering menjadi perbincangan, baik karena perubahan struktur pembelajaran, pendekatan yang lebih fleksibel, maupun berbagai penyesuaian administrasi yang harus dilakukan sekolah. Namun, di balik berbagai perubahan tersebut, terdapat satu tujuan yang sering terlupakan, yaitu membangun karakter peserta didik melalui pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Kurikulum Merdeka sesungguhnya memberikan ruang yang lebih luas bagi peserta didik untuk belajar secara aktif. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga diajak berdiskusi, bekerja sama, menyelesaikan masalah, melakukan refleksi, hingga mengambil keputusan dalam berbagai aktivitas pembelajaran. Proses seperti inilah yang perlahan membentuk sikap tanggung jawab, kemandirian, kepedulian, dan kemampuan bekerja sama.
Karakter tidak lahir dalam satu kali pembelajaran. Ia tumbuh melalui kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus. Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak cukup disampaikan dalam bentuk nasihat atau slogan yang dipasang di dinding sekolah. Nilai-nilai tersebut harus hadir dalam budaya belajar sehari-hari, dalam cara guru berinteraksi dengan peserta didik, serta dalam berbagai pengalaman yang dialami siswa selama berada di sekolah.
Bagi sekolah Muhammadiyah, upaya membangun karakter memiliki fondasi yang lebih kuat. Selain mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, sekolah Muhammadiyah juga mengintegrasikan pendidikan Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (ISMUBA), budaya religius, pembiasaan ibadah, serta keteladanan guru. Kombinasi tersebut menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan akhlak.
Ketika peserta didik terbiasa melaksanakan salat berjamaah, membaca Al-Qur'an, berinfak, menghargai sesama, serta melihat langsung keteladanan dari para guru, proses pembentukan karakter berlangsung secara alami. Nilai-nilai seperti amanah, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial tidak lagi berhenti sebagai materi pelajaran, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pandangan tersebut bukan sekadar asumsi. Penelitian yang kami lakukan pada peserta didik SMA dan SMK Muhammadiyah se-Kabupaten Purbalingga menunjukkan adanya hubungan positif antara implementasi penguatan karakter dalam Kurikulum Merdeka dengan karakter Islami peserta didik. Temuan ini mengindikasikan bahwa pembelajaran yang memberikan ruang bagi peserta didik untuk bertanggung jawab, berkolaborasi, serta melakukan refleksi berkaitan dengan berkembangnya karakter Islami yang lebih baik.
Meskipun demikian, hasil tersebut juga memberikan pesan penting bahwa sekolah bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan pendidikan karakter. Pembentukan karakter merupakan proses panjang yang dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, pergaulan, budaya masyarakat, hingga media digital yang setiap hari dikonsumsi oleh peserta didik.
Di sinilah tantangan terbesar pendidikan saat ini. Sekolah hanya bersama peserta didik selama beberapa jam setiap hari, sementara pengaruh media sosial hadir hampir tanpa batas waktu. Anak-anak belajar dari berbagai konten yang mereka lihat, tokoh yang mereka ikuti, dan komunitas digital yang mereka masuki. Jika sekolah dan keluarga tidak mampu menjadi sumber keteladanan yang kuat, maka ruang pendidikan akan diisi oleh nilai-nilai lain yang belum tentu sesuai dengan tujuan pendidikan nasional maupun ajaran Islam.
Karena itu, membangun generasi berkarakter tidak dapat diserahkan kepada sekolah semata. Orang tua perlu menghadirkan lingkungan keluarga yang penuh keteladanan. Guru harus menjadi pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi. Masyarakat pun memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan sosial yang mendukung tumbuhnya perilaku positif. Ketika ketiga unsur tersebut berjalan bersama, pendidikan karakter tidak lagi menjadi program sekolah, melainkan menjadi budaya yang hidup dalam keseharian peserta didik.
Kurikulum Merdeka pada akhirnya hanyalah sebuah instrumen. Keberhasilannya sangat bergantung pada bagaimana guru memaknainya, bagaimana sekolah membangun budayanya, dan bagaimana keluarga melanjutkan proses pendidikan di rumah. Kurikulum yang baik tidak akan menghasilkan perubahan berarti apabila tidak diiringi dengan keteladanan dan komitmen seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan.
Di tengah berbagai tantangan zaman, bangsa ini sesungguhnya tidak hanya membutuhkan generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita juga membutuhkan generasi yang jujur ketika tidak ada yang mengawasi, bertanggung jawab ketika memegang amanah, peduli terhadap sesama, serta memiliki akhlak yang menjadi fondasi dalam setiap keputusan yang diambil.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari tingginya nilai rapor atau banyaknya prestasi yang diraih peserta didik. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika sekolah mampu melahirkan manusia yang cerdas, berintegritas, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai moral serta keislaman di tengah perubahan zaman. Itulah tantangan sekaligus tujuan besar yang harus terus diperjuangkan melalui implementasi Kurikulum Merdeka.
Kontributor Muhammad Sidiq Pambudi